STUDI MERAPI I


REFLEKSI KEMATIAN MBAH MARIDJAN

Oleh : Budi Setiyarso

4 Nopember 2010

Mbah Maridjan 

Mbah Maridjan

Setting morfologi puncak gunungapi aktif kuat dipengaruhi oleh sistem aliran lava. Morfologi ini mempengaruhi sistem aliran lava. Begitu juga sistem aliran lava akan mempengaruhi setting morfologi pasca vulkanisme. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa keadaan morfologi puncak dan jalur lava bersifat dinamis dan berubah dari waktu ke waktu, tergantung kuatnya gerusan lava dan besaran sedimentasi lava yang telah membeku.

Dugaan aliran lava akan membentuk pola yang tetap (tidak banyak berubah) sebagai buah perkembangan pengetahuan lokal (local knowledge) yang mendasarkan pada “ilmu titen” dari peristiwa-peristiwa di masa lampau (event) adakalanya bisa menjadi “salah”. Seperti itulah kasus tragedi “Mbah Maridjan” di Dusun Kinahrejo pada tanggal 26 Oktober 2010.

Selama kurun waktu 1911-2006, pola aliran awan panas dan lava Merapi memang mayoritas mengarah ke sisi barat dan barat laut lereng Merapi yaitu melewati Kali Krasak, Begog, Boyong, Blongkeng, Lamat dan Senowo. Permukiman penduduk yang berada di DAS ini dapat dikatakan lebih berbahaya dibandingkan dengan permukiman di DAS yang lain. Apalagi untuk permukiman di daerah lembah-lembah sungai. Oleh karena itu dapat kita amati sebaran permukiman di lereng ini lebih banyak kosongnya dibandingkan sisi lereng yang lain. Hal ini merupakan bentuk kearifan lokal (local wisdom) yang berwujud penyesuaian manusia (adaptation) terhadap kejadian alam (natural event). Lihat sebaran endapan vulkanik berikut ini :

Endapan Vulkanik

Setelah morfologi pembendung lava ke arah selatan (geger boyo) ambrol pada letusan tahun 2006, aliran awan panas dan lava Merapi lebih cenderung mengarah ke sisi selatan lereng yaitu melewati Kali Gendol. Peristiwa ini seharusnya menjadi pelajaran karena secara tidak langsung, Merapi telah mengingatkan perubahan setting morfologinya.

Lokasi Kali Gendol

Kearifan lokal seharusnya mampu menangkap signal yang dipancarkan Merapi ini. Sesuai kata Mbah Maridjan sendiri bahwa Merapi “sedang membangun” sistem aliran yang baru. Bisa jadi untuk letusan pasca 2006 dan seterusnya aliran awan panas dan lava banyak mengarah ke lereng selatan.

Kronologisnya, aliran lava dan awan panas ke arah selatan tahun 2006 memang belum “sempat” mampir ke Dusun Kinahrejo, tempat Mbah Maridjan tinggal. Hal ini dikarenakan masih adanya bukit-bukit kecil di atas dusun yang mampu membendung aliran awan panas dan membelokkannya menjauh dari Dusun Kinahrejo. Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah sampai kapan bukit-bukit itu mampu menahan kuatnya aliran lava dan awan panas?

Pertanyaan tersebut terjawab setelah letusan 26 Oktober 2010 terjadi. Letusan yang sudah menunjukkan gejala kejadian extreme itu melibas Dusun Kinahrejo dan menewaskan 24 orang. Awan panas tersebut mampu menerobos bukit pelindung dusun dan bahkan mampu melewati igir antara DAS Gendol dan DAS Kuning. Dimana Dusun Kinahrejo berada di igir tersebut.

Perubahan Aliran Awan Panas

Selain karena magnitude awan panas lebih besar dari tahun 2006 (Volcanic Explosion Index/VEI >2). Ada hal lain yang menyebabkan aliran awan panas mengarah ke Dusun Kinahrejo, yaitu terkait dengan ketimpangan morfologi akibat pengendapan lahar beku di Kali Gendol bagian timur. Sepanjang aliran Kali Gendol bagian timur terisi material-material yang terangkut erupsi Tahun 2006, sehingga aliran awan panas membludag ke arah barat.

Akhir kata banyak pelajaran yang dapat kita ambil dan kita renungkan dari peristiwa letusan Merapi tersebut yaitu :

  1. Setting morfologi gunungapi berubah dari waktu ke waktu, sehingga pengetahuan lokal perlu didampingi dengan pemetaan morfologi secara continue pasca vulkanisme. Sebab pengetahuan lokal ini akan berubah menjadi kepercayaan lokal yang akan meningkatkan ambang toleransi dan menurunkan kepekaan terhadap bencana
  2. Guguran awan panas selain disebabkan faktor gravitasi (mengalir melalui lembah sungai) juga dipengaruhi oleh angin, sehingga ada perubahan arah aliran yang terjadi tanpa dapat kita duga
  3. Merapi yang identik dengan erupsi efusif bisa saja berubah menjadi erupsi eksplosif sehingga pemodelan sistem aliran magma bisa berubah. Penduduk lereng Merapi harus waspada terhadap kemungkinan kejadian yang berbeda dan pandai-pandai melihat situasi

 

Pra Letusan 2010 

Pra Letusan 2010

Setelah letusan 2010

 

Pasca Letusan 2010 

Pasca Letusan 2010

Referensi :

Studi sensitivitas penduduk terhadap bahaya awan panas Gunungapi Merapi di Kawasan Rawan Bencana II dan III (Thesis UGM, Pak Yasin Yusuf)

Inigeonews.blogspot.com (Pak Yasin Yusuf)

rovicky.wordpress.com (Dongeng Geologi)

%d blogger menyukai ini: