STUDI MERAPI IV


BAHAYA LAHAR DINGIN MERAPI 2010

Oleh : Budi Setiyarso

9 Nopember 2010

 

Bahaya Merapi 

Bahaya Merapi

Bahaya gunungapi dibedakan menjadi bahaya primer (bahaya langsung) dan bahaya sekunder (bahaya tidak langsung). Bahaya primer merupakan bahaya dampak hasil erupsi yang meliputi aliran lava, aliran piroklastik, bahan jatuhan dan gas. Bahaya sekunder merupakan bahaya dampak lanjutan erupsi seperti lahar, gerakan massa, tsunami dan hujan asam (Yasin Yusuf).

Sebelum mengulas lebih jauh alangkah baiknya kita cermati beberapa istilah kegunungapian berikut ini :

Aliran lava (lava flow) adalah magma yang keluar dari permukaan dan mengalir di permukaan yang berupa material magma (cairan silikat) murni bersuhu tinggi (bisa mencapai > 1300 derajat C)

Guguran lava adalah rock fall / jatuhan batuan yang terjadi di puncak gunungapi. Guguran ini terjadinya karena lava yang mendingin dan telah berubah menjadi batuan vulkanik membentuk sumbat lava (volcanic plug) yang menutupi seluruh atau sebagian lubang kepundan, Kemudian akibat tekanan magma dari dalam menyebabkan batuan ini hancur / jatuh.

Awan panas (wedhus gembel/glowing cloud) adalah produk erupsi gunungapi yang berupa semburan awan bersuhu tinggi (bisa mencapai 500 C atau lebih) dengan komposisi utama gas, uap air dan material padat seperti debu, kerikil, kerakal, lapili dan bom.

Lahar adalah campuran yang bersifat panas atau dingin antara air dan rombakan tefra lepas-lepas yang mengalir menuruni lereng gunungapi dan atau lembah sungai dengan kecepatan dan densitas yang tinggi. (Yatno)

Bahaya primer telah dikupas dalam tulisan sebelumnya. Tulisan ini lebih mengupas tentang bahaya sekunder Merapi yang merupakan dampak lanjutan kegiatan erupsi khususnya banjir lahar dingin. Lahar dingin merupakan aliran sedimen pekat yang terdiri atas batu, kerikil, pasir serta abu vulkanik yang tercampur air. Proses terbentuknya karena material piroklastik yang berguguran di lereng Merapi terkena air hujan sehingga menyebabkan jatuh ke permukaan bumi dan menggulung material permukaan yang dilewatinya. Material gulungan dan piroklastik itu tertransport dan diendapkan di lembah-lembah / sungai, serta mengalir layaknya banjir.

Peta zonasi ancaman banjir lahar dingin dari BNPB adalah tersebut di bawah ini :

Peta Zonasi Ancaman Banjir Lahar Dingin 

Peta Zonasi Ancaman Banjir Lahar Dingin

Zonasi ini didasarkan pada buffer zone 300 dan 500 meter sepanjang sungai yang hulunya di lereng Gunung Merapi bagian barat hingga tenggara. Sungai-sungai yang dimaksud adalah Kali Pabelan, Kali Upu, Kali Lamat, Kali Brongkeng, Kali Putih, Kali Batang, Kali Krasak, Kali Begog, Kali Bebeng, Kali Boyong, Kali Kuning, Kali Opak, Kali Gendol dan Kali Woro. Berhati-hatilah bagi penduduk yang berada di lembah sungai dan muara sungai tersebut.

Tetap waspada !!!

%d blogger menyukai ini: