STUDI MERAPI VI


DAMPAK DI UDARA LETUSAN GUNUNG MERAPI

Budi Setiyarso

11 Nopember 2010

Awan akibat letusan Merapi

Awan letusan Merapi

Letusan Gunung Merapi membentuk awan yang menutupi sebagian besar Pulau Jawa. Awan yang terbentuk dari gas-gas yang dikeluarkan Gunung Merapi ini mengakibatkan gangguan di atmosfer khususnya di lapisan paling bawah yaitu troposfer. Seperti kita ketahui bahwa letusan Merapi 2010 sebanding dengan 600 kali letusan bom atom di Hirosima pada tahun 1945. Dapat dibayangkan seberapa besar gas yang diproduksi akibat letusan tersebut.

Pada tanggal 5 November 2010. Sensor MODIS di satelit Terra NASA menangkap gambar awan di sekitar pulau Jawa yaitu sebagai berikut ini :

Awan yang menyelimuti Pulau Jawa

Awan yang menyelimuti Pulau Jawa

Gunung Merapi merilis salah satu gas yaitu belerang dioksida (Sulfure Dioxide). Gas berwarna ini dapat membahayakan kesehatan manusia dan mengganggu kestabilan iklim di bumi. Gambar di bawah ini menunjukkan konsentrasi sulfur dioksida pada tanggal 4 – 8 November 2010, seperti yang diamati oleh Ozone Monitoring Instrument (OMI) pada pesawat ruang angkasa NASA Aura. Sulfur dioksida diukur dalam Unit Dobson yang biasanya digunakan untuk mengukur kandungan ozon. Konsentrasi terbesar digambarkan dalam warna gelap merah-coklat dan konsentrasi terkecil digambarkan dalam warna putih cahaya. Unit Dobson adalah jumlah molekul gas yang akan diperlukan untuk membuat lapisan tebal 0,01 mm pada temperatur 0 derajat Celcius dan tekanan 1 atmosfer (tekanan udara di permukaan bumi ).

Pada tanggal 9 November 2010, Volcanic Ash Advisory Centre di Darwin, Australia, melaporkan awan belerang dioksida terkonsentrasi di Samudera Hindia antara 40.000 dan 50.000 kaki (12.000 dan 15.000 meter) atau di bagian troposfer atas. Gambaran sebaran belerang dioksida di troposfer tersebut adalah sebagai berikut ini :

Sebaran gas sulfur dioksida

Sebaran gas sulfur dioksida

Dampak bagi manusia?

Pengaruh belerang dioksida bervariasi tergantung pada jumlah yang dipancarkan, garis lintang di mana emisi terjadi, ketinggian di mana gas terkonsentrasi, angin regional dan pola cuaca. Pada tingkat dasar, belerang dioksida membuat iritasi kulit manusia, mata, dan saluran pernapasan bagian atas. Pada ketinggian yang lebih tinggi, belerang dioksida dapat menjalani serangkaian reaksi kimia yang mempengaruhi lingkungan. Misalnya dengan bereaksi dengan uap air, sulfur dioksida dapat membuat ion sulfat, prekursor menjadi asam sulfat yang dapat menyebabkan hujan asam.

 

Referensi : NASA

6 Komentar to “STUDI MERAPI VI”

  1. nuhun, posting materina pa, ditunggu update terbarunya

  2. wahh pengetahuan nih, saya sangat tertarik bgt masalah kegunungapian

  3. Sama-sama guru nih…
    banner Guru Geografi udah dipasang di :
    http://arimatematika.blogspot.com/

%d blogger menyukai ini: